Laba Bank Danamon 2025 Tumbuh Didukung Pendapatan Operasional

Jumat, 20 Februari 2026 | 09:12:21 WIB
Laba Bank Danamon 2025 Tumbuh Didukung Pendapatan Operasional

JAKARTA - Di tengah dinamika industri perbankan nasional sepanjang 2025, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) mencatat capaian kinerja yang menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan. 

Strategi penguatan pendapatan operasional dan efisiensi biaya menjadi fondasi utama dalam menjaga profitabilitas perseroan.

PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 4 triliun sepanjang tahun buku 2025.

Chief Financial Officer Danamon, Theresia Adriana mengatakan bahwa, kinerja ini tumbuh 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/YoY), didorong oleh peningkatan pendapatan operasional dan pengelolaan biaya yang lebih efisien.

“Danamon mencatatkan laba bersih tahun berjalan konsolidasian setelah pajak dan kepentingan minoritas sebesar Rp4 triliun, tumbuh 14 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.,” ujar Theresia.

Pertumbuhan dua digit tersebut mencerminkan konsistensi Danamon dalam menjaga momentum bisnis di tengah berbagai tantangan eksternal. Perbaikan struktur biaya serta optimalisasi pendapatan menjadi faktor yang menopang pencapaian tersebut.

PPOP dan Dampak Penggabungan Usaha

Dari sisi laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP konsolidasian tercatat sebesar Rp 9,6 triliun, tumbuh 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan pertumbuhan pendapatan operasional yang solid.

Theresia menjelaskan, kinerja keuangan konsolidasian tersebut telah memperhitungkan dampak penggabungan usaha antara PT Mandala Multifinance Tbk dan PT Adira Dinamika Multifinance Tbk yang efektif sejak 1 Oktober 2025.

Penggabungan ini turut memengaruhi penyajian ulang laporan keuangan tahun 2024 sebagai periode pembanding.

Langkah korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi konsolidasi bisnis pembiayaan dalam grup. Dengan penggabungan Mandala Multifinance dan Adira Finance, struktur bisnis menjadi lebih terintegrasi, sekaligus memberikan dampak pada pelaporan keuangan tahun berjalan maupun periode pembanding.

Kinerja PPOP yang tetap tumbuh menunjukkan bahwa sebelum memperhitungkan pencadangan, aktivitas operasional Danamon tetap berada dalam jalur pertumbuhan positif.

Pertumbuhan Kredit dan Dana Pihak Ketiga

Dari sisi intermediasi, Danamon mencatatkan total kredit dan trade finance konsolidasian sebesar Rp 212,7 triliun per 31 Desember 2025, meningkat 9 persen secara tahunan.

Pertumbuhan kredit terjadi di seluruh lini bisnis, termasuk enterprise banking, financial institutions, consumer banking, serta pembiayaan melalui Adira Finance.

Sementara itu Theresia menjelaskan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih tinggi, yakni 16 persen secara tahunan menjadi Rp 176,9 triliun. Pertumbuhan ini ditopang peningkatan simpanan giro dan tabungan (CASA) yang naik 18 persen menjadi Rp 75,2 triliun.

Ekspansi kredit yang merata di berbagai segmen menunjukkan diversifikasi portofolio pembiayaan Danamon. Tidak hanya bertumpu pada satu lini bisnis, pertumbuhan tercatat di segmen korporasi, institusi keuangan, konsumer, hingga pembiayaan kendaraan melalui Adira Finance.

Di sisi pendanaan, pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan kredit memperlihatkan likuiditas yang tetap terjaga. Peningkatan CASA turut mendukung efisiensi biaya dana, mengingat dana murah menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga margin bunga.

Kualitas Aset dan Profitabilitas Membaik

Selain pertumbuhan pendapatan, peningkatan laba bersih juga didukung oleh perbaikan kualitas kredit. Biaya kredit atau cost of credit tercatat membaik sebesar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) berada di level 7,7 persen.

Kualitas aset Danamon juga menunjukkan perbaikan, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang turun menjadi 1,7 persen, lebih baik 20 basis point dibandingkan tahun sebelumnya. Rasio Loan at Risk (LAR) juga membaik menjadi 8,3 persen, turun 230 basis point secara tahunan.

Perbaikan indikator kualitas aset tersebut menjadi sinyal positif atas pengelolaan risiko kredit. Penurunan NPL dan LAR menunjukkan kemampuan bank dalam menjaga kualitas portofolio pinjaman di tengah ekspansi bisnis.

NIM di level 7,7 persen mencerminkan kemampuan bank dalam mengelola aset produktif dan biaya dana secara seimbang. Kombinasi pertumbuhan kredit, efisiensi biaya, serta kualitas aset yang membaik berkontribusi terhadap peningkatan laba bersih sepanjang 2025.

Permodalan Kuat dan Laba Tanpa Dampak Merger

Selain itu, permodalan dan likuiditas Danamon tetap kuat, dengan rasio kecukupan modal atau KPMM sebesar 25,4 persen, rasio cakupan likuiditas (LCR) sebesar 158,9 persen, serta rasio pendanaan stabil bersih (NSFR) sebesar 117,9 persen.

Apabila mengecualikan dampak penggabungan usaha Mandala Finance dan Adira Finance, Danamon tetap mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar Rp 3,9 triliun atau meningkat 21 persen secara tahunan.

Pendapatan operasional konsolidasian tercatat sebesar Rp 19,5 triliun, naik 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Rasio permodalan yang berada di atas ketentuan regulator menunjukkan ruang ekspansi yang masih terbuka. Likuiditas yang terjaga melalui LCR dan NSFR yang tinggi memperkuat posisi Danamon dalam menghadapi volatilitas pasar.

Jika dampak penggabungan usaha dikecualikan, pertumbuhan laba bersih yang mencapai 21 persen secara tahunan menegaskan bahwa kinerja inti perseroan tetap solid. Kenaikan pendapatan operasional menjadi penopang utama pencapaian tersebut.

Secara keseluruhan, sepanjang tahun buku 2025 Danamon membukukan pertumbuhan laba bersih, peningkatan intermediasi, perbaikan kualitas aset, serta rasio permodalan dan likuiditas yang kuat. Kombinasi faktor-faktor tersebut membentuk fondasi yang mendukung kinerja perseroan secara berkelanjutan.

Terkini