Optimisme Ekonomi 2026 Dorong IHSG Menuju Level 10.000 Menurut Purbaya

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:52:18 WIB
Optimisme Ekonomi 2026 Dorong IHSG Menuju Level 10.000 Menurut Purbaya

JAKARTA - Memasuki tahun 2026, pasar modal Indonesia kembali mendapat sorotan seiring meningkatnya optimisme terhadap arah perekonomian nasional. 

Sentimen positif tersebut tercermin dari keyakinan sejumlah pemangku kebijakan bahwa kinerja pasar saham akan semakin solid. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan diproyeksikan mampu menembus level psikologis 10.000, sebuah capaian yang selama ini dianggap ambisius namun realistis jika ditopang kebijakan yang tepat dan kondisi ekonomi yang mendukung.

Keyakinan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Menurutnya, tahun 2026 menjadi periode penting karena fondasi ekonomi Indonesia telah menunjukkan perbaikan signifikan. 

Optimisme ini tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga tercermin dari persepsi pelaku pasar yang melihat prospek pertumbuhan ekonomi nasional semakin menjanjikan.

Optimisme Pelaku Pasar terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan berbagai sentimen yang akan menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat ke level 10.000 pada tahun 2026. 

Ia mengatakan terdapat optimisme dari pelaku pasar bahwa perekonomian nasional akan membaik pada 2026, yang mana pertumbuhan 6 persen year-on-year (yoy) bukanlah angka yang mustahil dicapai.

Optimisme ini, menurut Purbaya, berangkat dari kondisi fundamental ekonomi yang semakin kokoh. Stabilitas makro, pengendalian inflasi, serta perbaikan koordinasi kebijakan menjadi faktor penting yang membangun kepercayaan investor. 

Dengan latar belakang tersebut, pasar menilai bahwa ruang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbuka lebar.

“Saya pikir memang itu optimisme di pasar atau pelaku pasar bahwa kita akan membaik terus ke depan. Kalau saya lihat, fondasi ekonominya yang sudah membaik sekarang, tahun ini akan lebih baik lagi karena kebijakan kita dengan BEI sudah amat sinkron, harusnya ekonomi akan tumbuh lebih cepat, dan 6 (persen) bukan mustahil dicapai tahun ini,” ujar Purbaya.

Sinkronisasi Kebijakan Jadi Faktor Kunci

Salah satu penopang utama optimisme tersebut adalah semakin eratnya sinkronisasi kebijakan antara pemerintah dan otoritas terkait, khususnya Bank Indonesia (BI) serta Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Purbaya menilai, keselarasan kebijakan fiskal dan moneter akan menciptakan iklim ekonomi yang lebih stabil dan kondusif bagi pertumbuhan dunia usaha.

Ia meyakini bahwa dengan koordinasi yang solid, kebijakan yang dikeluarkan tidak saling bertentangan, melainkan saling menguatkan. Hal ini dinilai mampu mempercepat laju pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Ia meyakini bahwa 10.000 bukanlah angka yang mustahil untuk dicapai oleh IHSG pada tahun ini. “Tahun ini (IHSG) 10.000, itu bukan angka yang mustahil dicapai,” ujarnya.

Kendali Penuh Kemenkeu Beri Ruang Akselerasi

Purbaya juga menyoroti perbedaan kondisi kebijakan antara tahun sebelumnya dan 2026. Mulai tahun ini, Kementerian Keuangan berada sepenuhnya dalam kendalinya selama satu tahun penuh. 

Kondisi ini dinilai memberikan ruang yang lebih luas untuk merancang dan menjalankan kebijakan ekonomi secara optimal.

Salah satu alasannya, ia menjelaskan bahwa mulai 2026, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sepenuhnya akan berada dalam kendalinya setahun penuh, dibandingkan tahun lalu yang baru mulai dinahkodainya pada 8 September 2025.

“Kan sekarang satu tahun penuh ini saya sudah bagian ekonominya bersama Gubernur BI dan lain lain. Kalau kemarin kan saya masih separuh-separuh, cuma seperempat malah,” ujar Purbaya.

Dengan waktu yang lebih panjang tersebut, Purbaya menilai koordinasi lintas lembaga dapat dilakukan lebih intensif dan terarah. Kebijakan fiskal pun diharapkan bisa lebih responsif terhadap dinamika ekonomi global maupun domestik.

Dampak Kebijakan terhadap Kinerja Perusahaan

Sinkronisasi kebijakan yang lebih baik diyakini akan berdampak langsung pada kinerja perusahaan. Purbaya menilai bahwa percepatan pertumbuhan ekonomi akan menjadi landasan bagi peningkatan laba korporasi. Ketika kinerja perusahaan membaik, hal ini akan tercermin pada pergerakan harga saham di pasar.

Selain itu, iklim investasi yang kondusif akan menarik minat investor untuk kembali menanamkan modalnya di pasar saham. Menurut Purbaya, investor yang jeli akan mampu membaca peluang ini dan memanfaatkannya sejak dini.

Selain itu, lanjutnya, seiring dilakukannya sinkronisasi kebijakan bersama Bank Indonesia (BI) akan semakin mengakselerasi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026.

“Harusnya dengan kebijakan yang lebih sinkron kita dengan bank sentral dengan yang lain-lain, ekonomi kita bisa tumbuh lebih cepat. Itu akan melandasi pertumbuhan keuntungan perusahaan juga. Investor-investor yang jeli, jangan sampai ketinggalan,” ujar Purbaya.

Gambaran Pergerakan IHSG di Awal Tahun

Optimisme tersebut juga tercermin dari pergerakan IHSG pada awal perdagangan 2026. Data perdagangan BEI pada Jumat, pukul 11.50 WIB, IHSG tercatat menguat 77,96 poin atau 0,90 persen berada di level 8.724,90.

Kenaikan indeks ini menunjukkan adanya respons positif pasar terhadap prospek ekonomi dan kebijakan yang disampaikan pemerintah. Aktivitas perdagangan juga terpantau cukup ramai, menandakan minat investor yang masih kuat.

Sementara itu, frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.808.057 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 25,83 miliar lembar saham senilai Rp11,86 triliun. Sebanyak 461 saham naik, 219 saham menurun, dan 119 saham tidak bergerak nilainya.

Prospek IHSG Menuju Level Psikologis Baru

Dengan berbagai sentimen positif tersebut, proyeksi IHSG menuju level 10.000 pada 2026 dinilai semakin realistis. Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa pencapaian tersebut tetap membutuhkan konsistensi kebijakan dan dukungan seluruh pemangku kepentingan.

Pasar modal Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan momentum ini untuk terus tumbuh secara berkelanjutan. 

Jika fondasi ekonomi tetap terjaga dan koordinasi kebijakan berjalan optimal, IHSG bukan hanya berpotensi menembus level 10.000, tetapi juga memperkuat peran pasar modal sebagai pilar penting perekonomian nasional.

Terkini